Sejarah Syahidnya Sahabat Mush'ab bin Umair Syuhada Yang Gigih
Panji Islam

Sejarah Syahidnya Sahabat Mush’ab bin Umair Syuhada Yang Gigih

Posted on

Sahabat Muslimin dan Muslimat Yang Dirahmati Allah SWT. Mush’ab bin Umair telah mengislamkan separuh penduduk Kota Madinah dan menyiapkan kota itu menjadi tujuan hijrah. Tapi kini, beliau harus mempertahankannya dari serbuan pasukan kafir Quraisy. Bersama sekitar 700 muslim lainnya, Mush’ab bin Umair bergerak menuju bukit Uhud.

Sejarah Syahidnya Sahabat Mush'ab bin Umair Syuhada Yang Gigih
Panji Islam

Diawal perang, pertempuran demi pertempuran dimenangioleh kaum Muslimin. Pasukan kafir Quraisy terpukul mundur. Sementara pasukan berkuda mereka tidak bisa banyak membantu karena pasukan pemanah kaum muslimin berjaga-jaga di atas bukit, siap membidikkan anak-anak panah jika mereka mendekat.

Menyaksikan pasukan kafir Quraisy kocar-kacir meninggalkan banyak ghanimah, kaum muslimin merasa mereka telah menang. Mereka pun mengumpulkan ghanimah itu. Melihat pemandangan di bawah, pasukan pemanah tergoda untuk turun. “Kita sudah menang, mari bergabung dengan teman-teman di bawah” kata mereka. Kini tinggal satu dua pemanah di atas bukit itu. “Kita diperintahkan Rasulullah untuk tetap di sini, apapun yang terjadi hingga ada perintah turun.” Kata-kata itu seperti tak terdengar. tetapi Para pemanah tetap pergi ke bawah bukit.

Memandang atas bukit terjadi kekosongan pasukan muslim, Khalid bin Walid yang sedari tadi mengamati segera memberi instruksi. Dalam sekejap, pemimpin pasukan berkuda yang masih musyrik itu mengomando pasukannya untuk mengitari bukit dan menghantam pasukan kaum muslimin. Mengetahui pasukan berkuda berhasil mendobrak pertahanan kaum muslimin, pasukan kafir Quraisy yang sebelumnya tercerai berai kini tertata kembali. Mereka berbalik haluan menyerang pasukan Kaum Muslimin. Kondisi waktu itu genting

 

Tujuan Pasukan kafir Quraisy dalam perang itu adalah menghentikan dakwah dengan melenyapkan pemimpinnya; yaitu Rasulullah Muhammad SAW. Maka mereka mengkonsentrasikan serangan untuk mencari Rasulullah dan bertekad membunuhnya. Kondisi ini disadari oleh Mush’ab bin Umair. Maka Mush’ab pun mengibarkan bendera tinggi-tinggi, sambil berkelebat ke sana kemari menghadapi para pasukan kafir Quraisy. Ia ingin mengalihkan konsentrasi pasukan kafir Quraisy agar tidak melakukan pengejaran terhadap Rasulullah Muhammad SAW.

Dan sesuai yang diprediksi. Sebagia besar pasukan kafir Quraisy kemudian mengerumuninya. Mengeroyoknya. Mereka terpancing untuk menjatuhkan bendera Kaum Muslimin dari tangan Sahabat Mush’ab.

Sahaba Mush’ab bin Umair bertempur dengan gagah berani. Hingga Ibnu Qaimah, salah seorang pasukan berkuda Kafir Quraisy menyerangnya dan menebas tangan kanannya. Tangan itu jatuh ke tanah. Berdarah-darah. Tetapi Mush’ab bin Umair seperti tak merasa kesakitan. Allahu Akbar!! Ucapannya menggambarkan ingatannya akan nasib Rasulullah Muhammad SAW.  Mush’ab tidak mengeluh dan tidak mengaduh, tetapi beliau membaca ayat 44 dari surat Ali Imran. “Wa maa Muhammadun illa Rasuul, qad khalat min qablihir rusul. Afa-in maata au qutilan qalabtum ‘alaa a’qaabikum” (Tidaklah Muhammad melainkan seorang utusan sebagaimana utusan-utusan sebelumnya. Apakah jika Ia meninggal dunia atau terbunuh, kalian akan kembali ke belakang). Subhanallah!!

Musha’b bin Umair kemudian mengambil bendera kaum Muslimin dengan tangan kirinya, mengibarkannya tetap meninggi. Namun kemudian musuh menebas tangan kirinya. Ia kembali mengulang ayat itu, sembari membungkuk berupaya menahan bendera dengan kedua pangkal lengannya.

Pasukan berkuda Kaum Quraisy itu lantas menyerangnya lagi dengan tombak. Menghunjamkannya ke dada Mush’ab bin Umair. Maka jatuhlah duta Islam yang tampan itu. Ia gugur/ syahid sebagai syuhada’. Dan bendera pun kaum Muslimin pun roboh.

Ketika peperangan usai, Pasukan kafir Quraisy telah pergi, para sahabat memeriksa satu per satu jenazah para syuhada’.

Betapa berdukanya Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat ketika mengetahui Mush’ab telah syahid. Yang membuat pilu, Mush’ab yang dulunya kaya raya lalu meninggalkan kekayaan itu, kini tak memiliki apa pun sebagai kain kafan. Ia hanya mendapatkan kain kafan pendek. Jika ditutupkan ke kepalanya, maka kakinya kelihatan. Jika ditutupkan ke kakinya, kepalanya kelihatan. Rasulullah memerintahkan agar kain itu ditutupkan ke kepala Mush’ab bin Umair.

Memandang jenazah Sahabat Mush’ab bin Umair, dengan mata yang basah Rasulullah Muhammad SAW membaca firman Allah yang artinya: “Diantara orang-orang mukmin, terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka kepada Allah” (QS. Al Ahzab : 23)

Rasulullah Muhammad SAW kemudian bersabda kepada jasad Mush’ab, yang mengundang tangis siapapun yang mendengarnya: “Dulu ketika di Makkah, tak seorang pun yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada engkau. Tapi sekarang ini, rambutmu kusut, hanya dibalut sehelai burdah.”

Demikian artikel Sejarah Syahidnya Sahabat Mush’ab bin Umair Syuhada Yang Gigih semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah ini. artikel ini boleh anda bagikan, semoga orang lain mendapat manfaatnya dan Insya Allah menjadi ladang pahala bagi Anda. jazakumullah Khairan Katsira…

One thought on “Sejarah Syahidnya Sahabat Mush’ab bin Umair Syuhada Yang Gigih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.