Sejarah Sahabat Saad bin Muadz, Syahidnya yang Mengguncang Arsy
Panji Islam

Sejarah Sahabat Saad bin Muadz, Syahidnya yang Mengguncang Arsy

Posted on

Sahabat Muslimin dan Muslimin Yang Dirahmati Allah SWT. Sahabat Rasulullah yang bernama Sa’ad bin Mu’adz mempunyai julukan Abu Amr. beliau seorang pemuda Aus yang dikenal jago dalam urusan menunggang kuda, dan pemberani. Ayah beliau adalah Mu’adz bin An-Nu’man dan ibunya bernama Kabsyah bintu Rafi’. Adapun istri Sa’ad adalah Hindun binti Sammak, bibi Usaid bin Hudhair. Sa’ad bin Muadz merupakan pemimpin Bani Abdul Asyhal.

Sejarah Sahabat Saad bin Muadz, Syahidnya yang Mengguncang Arsy
Panji Islam

Pada saat Utusan Islam, Mush’ab bin Umair, berdakwah di Kota Yatsrib (Saat ini Kota Madinah) dan berhasil mengajak beberapa orang untuk beriman kepada Risalah yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW, Sa’ad bin Muadz tercengang. beliau langsung memerintahkan sahabat dekatnya, Usaid bin Hudhair, untuk menemui Mush’ab yang saat  itu bersama As’ad bin Zurarah (anak bibi Sa’ad bin Mu’adz) agar mau menghentikan dakwahnya.

Namun, sesampai ditempat Mush’ab dan setelah berdialog dengannya, Usaid malah menyatakan masuk Islam. Ia pun segera pulang untuk menemui Sa’ad bin Muadz dengan harapan agar Sa’ad juga dapat mengikuti jejaknya.

Melihat gelagat Usaid yang raut wajahnya sudah tidak seperti ketika saat perginya, Sa’ad bertanya, “Apa yang terjadi pada dirimu Wahai Usaid?”

Usaid  pun menjawab, “Aku sudah berbicara dengan dua orang tersebut. Demi Allah, aku tidak melihat keduanya tidak mempunyai kekuatan. Aku sudah melarang mereka berdua, lalu Mushab dan As’ad Bin Zurarah berkata, ‘Kami akan melakukan sesuatu yang engkau sukai. Aku sudah diberi tahu bahwa Bani Haritsah sudah menemui As’ad bin Zurarah untuk membunuhnya, karena mereka tahu bahwa anak bibimu telah menghinamu.”

Mendengar penjelasan itu, Sa’ad bin Muadz pun bangkit dengan marah, dan segera mengambil tombaknya lalu menghampiri As’ad bin Zurarah dan Mush’ab. Namun, tatkala Sa’ad bin Muadz melihat keduanya yang duduk tenang-tenang saja, barulah ia menyadari bahwa Usaid bermaksud mengakalinya agar dia bisa mendengar apa yang disampaikan mereka berdua.

Dengan wajah kecewa Sa’ad bin Muadz berdiri di hadapan mereka berdua, lalu berkata kepada As’ad bin Zurarah, “Demi Allah wahai Abu Umamah, kalau bukan karena ada hubungan kekerabatan diantara kita, aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Engkau datang ke perkampungan kami dengan membawa sesuatu yang tidak  kami sukai.”

Utusan Islam yang bernama Mush’ab berkata kepada Sa’ad bin Muadz, “Bagaimana jika engkau duduk dan mendengar apa yang aku sampaikan? Jika engkau suka terhadap sesuatu yang aku sampaikan, maka engkau bisa menerimanya. Dan jika engkau tidak menyukainya, maka kami akan menjauhkan darimu apa yang tidak kau sukai.”

“Engkau cukup adil” kata Sa’ad bin Muadz, kemudian Saad menancapkan tombaknya, dan duduk bersama keduanya.

Lalu Mush’ab menjelaskan Islam kepadanya dan membacakan Alquran dari permulaan surat Az-Zukhruf.

Kemudian Sa’ad bin Muadz bertanya, “Apa yang kalian lakukan tatkala dahulu kalian masuk Islam?”

“Hendaklah engkau mandi, bersuci dan mempersaksikan dengan kesaksian yang benar,” jawab Mush’ab.

Maka Sa’ad bin Muadz segera mandi dan mengucapkan 2 (dua) Kalimat Syahadat, kemudian shalat dua rakaat. Saad memungut tombaknya, lalu kembali menuju ruangan, yang di tempat itu ada kaumnya. Setelah berdiri di hadapan mereka, Saad berkata, “Wahai Bani Abdul Asyhal, apa pendapat kalian tentang diriku di tengah kalian?”

kaum Bani Abdul Asyhal pun menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami, orang yang paling kami ikuti pendapatnya di antara kami dan orang yang paling kami percayai.”

Sa’ad bin Muadz kemudian melanjutkan, “Tak seorang pun diantara kalian, baik laki-laki maupun wanita dilarang berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Belum sampai petang hari, tak seorang pun, baik laki-laki maupun perempuan di Bani Abdul Asyhal melainkan sudah menjadi Muslimin dan Muslimah.

Sesudah Masuk Islam, Kehidupan sahabat Sa’ad bin Muadz berubah. Sebagian Besar hidupnya dipergunakan untuk Mengabdi dan berjuang untuk menegakkan dakwah Islam. Dalam waktu yang singkat ia telah mengukir banyak momen-momen Perjuangan Dakwah yang luar biasa.

Saat Rasulullah Muhammad SAW harus perang di Badar, Sahabat Sa’ad bin Muadz yang mewakili orang-orang Anshar memberikan sikap dan dukungan yang tegas. Pada Perang Uhud yang bergejolak, Sa’ad bin Muadz menjadi tameng Rasulullah Muhammad SAW, tegak berdiri di sisi Rasulullah. Saat Perang Khandaq, Saadz bin Muadz turut mempertahankan Kota Madinah mati-matian. Beliau terluka terkena panah Hibban bin Qais Al-Araqah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk merawat Sa’ad di kemah Rufaidhah agar memudahkan beliau untuk menjenguknya.

Pada saat itu Kota Madinah dikepung dan tiba-tiba orang-orang Yahudi dari kaum Bani Quraidzah berkhianat. Mereka turut bersekutu dengan Quraisy, padahal sebelumnya telah melakukan perjanjian dengan Rasulullah SAW. Setelah kemenangan di Perang Khandaq, Rasulullah langsung mengadakan pengepungan terhadap perkampungan Bani Quraidzah yang telah berkhianat kepada kaum muslimin.

Perang berlangsung 25 hari, akhirnya orang-orang Yahudi Bani Quraidzah menyerah. Mereka meminta dihakimi oleh orang dari kaumnya sendiri. Maka Sahabat Sa’ad bin Mu’adz yang disepakati dan Rasulullah menyetujui. Di tengah rasa sakit karena luka yang terus memburuk, Sa’ad bin Muadz berdoa kepada Allah SWT , “Ya Allah, janganlah Engkau cabut nyawaku, sampai aku menyelesaikan urusanku dengan Bani Quraidzah.”

Sa’ad bin Muadz bersikap tegas, ia memutuskan. “Hukumannya adalah para laki-laki dewasa dibunuh, para wanita dijadikan tahanan dan harta mereka dibagi rata!”

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau telah menghukumi dengan apa yang ada di atas langit.”

Sesudah itu, hari-hari Sa’ad bin Muadz adalah penantian menuju keabadian. Ia memohon agar luka-luka itu mengantarkannya kepada kesyahidan. Ia seringkali dijenguk oleh Rasulullah Muhammad SAW. Beliau berdoa untuk Sa’ad bin Muadz. “Ya Allah, sesungguhnya Sa’ad ini telah berjuang di jalan-Mu. Maka terimalah ruhnya dengan penerimaan yang sebaik-baiknya.”

Sa’ad bin Muadz ingin hari terakhir yang dilihatnya adalah wajah Rasulullah yang mulia. Ia pun mengucap salam. “Assalamu’alaika, ya Rasulullah. Ketahuilah bahwa saya mengakui bahwa Anda adalah Rasulullah.”

Rasulullah memandang wajah Sa’ad lalu berkata, “Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr!”

Dan Sa’ad bin Muadz pun Wafat, menghadap Allah SWT. Orang-orang berduka cita dan berkabung. Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Sungguh, kematian Sa’ad telah membuat Arys Allah terguncang.”

[Sumber: republika.co.id]

Demikian artikel Sejarah Sahabat Saad bin Muadz, Syahidnya yang Mengguncang Arsy semoga kita dapat mengambil ibrah dari kisah ini. artikel ini boleh anda bagikan, semoga orang lain mendapat manfaatnya dan Insya Allah menjadi ladang pahala bagi Anda. jazakumullah Khairan Katsira…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.