Sejarah Muslimin tentang Syahidnya Hamzah bin Abdul Muthalib Paman Rasululllah SAW
Ilustrasi Perang di Masa Rasulullah

Sejarah Muslimin tentang Syahidnya Hamzah bin Abdul Muthalib Paman Rasululllah SAW

Posted on

Sahabat Muslim Pada suatu saat Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah untuk berburu. Sejak muda, paman Rasulullah Muhammad SAW ini memang mempunyai kesenangan berburu binatang.

Setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di kawasan perburuan tanpa menerima hasil, ia pun beranjak pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, ia lebih dulu mampir di Ka’bah untuk melaksanakan thawaf.

Sebelum hingga di Ka’bah, seorang budak wanita milik Abdullah bin Jud’an At-Taimi menghampirinya seraya berkata,”Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kau melihat apa yang dialami oleh keponakanmu, Muhammad bin Abdullah, pasti kau tidak akan membiarkannya. saksikanlah bahwa Abu Jahal sudah menyakiti dan memaki keponakanmu itu, hingga kesudahannya Muhammad Bin Abdullah mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.”

Usai mendengarkan panjang lebar kejadian yang dialami oleh keponakannya, Hamzah bengong sambil menundukkan kepalanya sejenak. Ia lalu membawa busur dan anak panahnya, lalu bergegas menuju Ka’bah dan berharap mampu bertemu Abu Jahal di sana.

Sejarah Muslimin tentang Syahidnya Hamzah bin Abdul Muthalib Paman Rasululllah SAW
Ilustrasi Perang di Masa Rasulullah

Sampai di Ka’bah ia melihat Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraisy sedang berbincang-bincang. Dengan hening Hamzah mendekati Abu Jahal. dan disusul gerakan kilat beliau luncurkan busur panahnya dan dipukulkan kepala Abu Jahal berkali-kali hingga Abu Jahal jatuh tersungkur. Darah segar keluar deras dari dahi Abu Jahal

“Mengapa kau memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaanmu itu kepadaku jika engkau berani!” seru Hamzah kepada Abu Jahal.

 

Untuk beberapa saat, orang-orang yang berada di sekeliling Ka’bah lupa akan penghinaan yang baru saja mengenai pemimpin mereka. Mereka begitu terpesona oleh kata-kata yang keluar dari mulut Hamzah bin Abdul Muthalib yang menyatakan bahwa dirinya telah menganut dan menjadi pengikut Rasululah Muhammad.

Seketika itu beberapa orang dari Bani Makhzum maju untuk melawan Hamzah dan menolong Abu Jahal. akan tetapi Abu Jahal mencegahnya seraya berkata,”Biarkanlah Abu Umarah melampiaskan amarahnya kepadaku. Karena tadi pagi, aku telah memaki dan mencerca keponakannya dengan kata-kata yang tidak pantas.”

Hamzah bin Abdul Muthalib yaitu seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat. Ia yaitu paman rasul dan saudara sepersusuannya. Beliau memeluk Islam pada tahun kedua kenabian. Ia juga ikut hijrah bersama Rasulullah SAW dan ikut dalam perang Badar. Pada Perang Uhud syahid dan Rasulullah menjulukinya dengan “Asadullah” (Singa Allah) dan menyebut beliau “Sayidus Syuhada” (Pemimpin Para Syuhada).

Saat tiba di rumah, beliau duduk terbaring sambil menghilangkan rasa penatnya, serta berpikir serta dan merenungkan kejadian yang baru saja dialaminya.

Sementara itu, Abu Jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berada dalam barisan kaum Muslimin berpendapat, perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum Muslimin sudah tidak mampu dielakkan lagi.

Oleh sebab itu, Abu Jahal mulai memprovokasi dan menghasut orang-orang Quraisy untuk melaksanakan tindak kekerasan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Bagaimanapun Hamzah pun tidak mampu membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sobat yang lemah. tetapi harus diakui, bahwa keislamannya telah menjadi benteng pelindung bagi kaum Muslimin lainnya.

 

Islamnya Hamzah  menjadi daya magnet tersendiri bagi kabilah Arab yang ada di sekitar Jazirah Arab untuk lebih mengetahui dinul Islam secara  lebih mendalam. Sejak menganut islam, Hamzah telah berazam untuk membaktikan segala kemampuan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan dakwah Dinul Islam.

Saat Perang Badar, Rasulullah menunjuk Hamzah bin Abdul Muthalib sebagai salah seorang komandan perang. beliau memperlihatkan keperkasaan dan keberaniannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama Islam. Akhirnya, kaum Muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara penuh.

Kaum kafir Quraisy tidak mau menelan kekalahan begitu saja, maka mereka mulai menghimpun segala kekuatan dan mempersiapkan diri untuk menuntut balas. saat yang dinanti, tibalah Perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bekerjasama untuk menghancurkan kaum Muslimin. Sasaran utama perang uhud itu adalah Rasulullah Muhammad SAW dan Hamzah bin Abdul Muthalib.

 

Diutuslah budak berjulukan Washyi bin Harb yang diperintahkan oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb, untuk membunuh Hamzah. Wahsyi dijanjikan akan menerima imbalan yang besar dan dimerdekakan pula apabila berhasil menunaikan tugasnya.

Akhirnya, sesudah terus-menerus mengintai Hamzah, budak tersebut melempar tombaknya dari belakang yang kesudahannya mengenai pinggang kepingan bawah Hamzah hingga tembus ke kepingan muka di antara dua pahanya. Tidak lama kemudian, Hamzah bin Abdul Muthalib wafat sebagai syahid.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bahu-membahu menngumpulkan jasad para syuhada yang gugur. Sejenak Rasul berhenti, menyaksikan dan diam seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benak dia bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Hamzah dan mengambil hatinya.Astagfirullah..

Kemudian Rasulullah Muhammad SAW mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, beliau berkata,”Tak pernah saya menderita sebagaimana yang kurasakan ketika ini. Dan tidak ada suasana apa pun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana saat ini.”

Setelah itu, Rasulullah dan kaum Muslimin menyalatkan mayat Hamzah dan para syuhada lainnya satu per satu.

Ibnu Atsir dalam kitab Usud Al-Ghabah, menyampaikan dalam Perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Sampai pada suatu ketika ia tergelincir sehingga terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada ketika itu beliau ditombak dan dirobek perutnya. Lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun lalu dikunyahnya. Namun Hindun memuntahkannya kembali lantaran tidak mampu menelannya.

Saat Rasulullah Muhammad SAW mengetahui kondisi jenazah paman beliau yaitu Hamzah, Beliau marah dan Allah SWT menurunkan firmannya: “Dan jikalau kau memperlihatkan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jikalau engkau bersabar, bergotong-royong itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS An-Nahl: 126)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq Sirah-nya, bahwa Ummayyah bin Khalaf bertanya pada

Abdurahman bin Auf, “Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?”

“Dia yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib,” jawab Abdurrahman bin Auf.

“Dialah yang menciptakan kekalahan kepada kami,” ujar Khalaf.

Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa saat perang Badar, Hamzah berperang disamping Rasulullah dengan memegang dua bilah pedang.

Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah SAW melihat Pamannya (Hamzah bin Abdul Muthallib) terbunuh, maka beliau menangis.

[Sumber : disarikan Sirah Ibnu Ishaq dan sumber lain/republika.co. id]

Demikian artikel Sejarah Muslimin tentang Syahidnya Hamzah bin Abdul Muthalib Paman Rasululllah SAW Semoga bermanfaat…silahkan anda bagikan semoga dapat menjadi pahala kebaikan bagi anda. Jazakumullah khairan katsira.

One thought on “Sejarah Muslimin tentang Syahidnya Hamzah bin Abdul Muthalib Paman Rasululllah SAW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.