Membicarakan Orang atau Ghibah Tidak Selalu Dengan Perkataan, Melalui Isyarat Juga Bisa
Membicarakan Orang Lain

Membicarakan Orang atau Ghibah Tidak Selalu Dengan Perkataan, Melalui Isyarat Juga Bisa

Posted on

Sahabat Muslim, Sudah Jelas pada Al Qur’an Surah Al-Hujurat bahwa kita dilarang sanga melakukant ghibah terhadap saudara sendiri. Perumpamaan yang sangat buruk yaitu makan daging  saudara sesama muslim sendiri.

Membicarakan Orang atau Ghibah Tidak Selalu Dengan Perkataan, Melalui Isyarat Juga Bisa
Membicarakan Orang Lain

Ghibah atau membicarakan kejelekan orang lain menciptakan pelakunya “bangkrut” di alam baka alasannya yaitu akan bagi-bagi pahala kepada yang dighibahi bahkan habislah pahala dihari final zaman kelak.

Ternyata ghibah tidak selalu dengan perkataan, tetapi mampu juga dengan:

Isyarat atau dengan perkataan tidak pribadi tetapi pendengar tahu siapa orang yang dimaksud, meski tanpa menyebut nama
Meniru-niru perbuatannya dengan maksud menghina, contohnya meniru-niru orang pincang, meniru-niru ucapan orang yang “keseleo lidah/khilaf” untuk menghina

Contoh ghibah dengan aba-aba sebagaimana teguran Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepasa ‘Aisyah yang menunjukkan kode-kode bahwa Shafiyah itu pendek dan maksudnya yaitu ingin ghibah
ﻋَﻦْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻗُﻠْﺖُ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺣَﺴْﺒُﻚَ ﻣِﻦْ ﺻَﻔِﻴَّﺔ ﻛَﺬَﺍ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺮُّﻭَﺍﺓُ : ﺗَﻌْﻨِﻲْ ﻗَﺼِﻴْﺮَﺓٌ , ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﻘَﺪْ ﻗُﻠْﺖِ ﻛَﻠِﻤَﺔً ﻟَﻮْ ﻣُﺰِﺟَﺖْ ﺑِﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ ﻟَﻤَﺰَﺟَﺘْﻪُ

“Dari ‘Aisyah dia berkata: Aku pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Cukup bagimu dari Shofiyah “INI DAN ITU”. Sebagian rawi berkata: ”Aisyah menyampaikan Shofiyah pendek”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat, yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air bahari pasti akan merubahnya (karena sangat kotor dan amis sehingga mampu merubah air laut).”.

Bahkan walaupun kita tidak menyebut namanya, tapi orang lain tahu siapa yang kita maksud. Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan:
ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﻔﻬﻢ ﺍﻟﺴﺎﻣﻊ ﺑﺄﻧﻪ ﻓﻼﻥ، ﻓﺈﻥ ﻓﻬﻢ ﺍﻟﺴﺎﻣﻊ ﺑﺄﻧﻪ ﻓﻼﻥ ﻓﻼ ﻓﺎﺋﺪﺓ ﻣﻦ ﺍﻹﺗﻴﺎﻥ ﺑﺼﻔﺔ ﻋﺎﻣﺔ

“Syarat (menasehati secara umum) yaitu para pendengar tidak mengetahui bahwa yang dimaksud yaitu fulan (orang tertentu). Jika pendengar paham bahwa orang itu yaitu Fulan maka tidak ada faidahnya kita menasehati secara umum.”

Demikian juga ghibah dengan aba-aba dan meniru-nirukan dengan maksud merendahkan.

‘Aisyah pernah berkata:
ﻗَﺎﻟَﺖْ : ﻭَﺣَﻜَﻴْﺖُ ﻟَﻪُ ﺇِﻧْﺴَﺎﻧًﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﺃُﺣِﺐُّ ﺃَﻧِّﻲْ ﺣَﻜَﻴْﺖُ ﺇِﻧْﺴَﺎﻧًﺎ ﻭَ ﺇِﻥَّ ﻟِﻲْ ﻛَﺬَﺍ

“Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang seseorang pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya menerima sekian dan sekian”.

Semoga kita selalu dihindarkan dari perbuatan ghibah alasannya yaitu ini menciptakan rugi dunia dan akhirat.

Sumber:  disarikan dari muslimafiyah. com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.